Senin, 07 Juli 2014

Pengagum Rahasia


            Masih dengan rutinitas yang sama. Memandangi fotomu setiap malam. Memikirkanmu setiap malam. Mengingat kenangan kita setiap malam. Membaca sekilas ke masa lalu, disaat kita bersama. Ya, sekiranya itulah yang aku lakukan selama aku menghabiskan masa liburanku ini. Selama aku tak bisa memandangi wajah tampanmu itu.
            Aku adalah salah satu wanita yang kagum terhadapmu. Hanya salah satu dari berpuluh puluh orang diluar sana yang juga mengagumimu. Kamu adalah pria yang mempunyai kharisma pengikat bagi wanita. Dengan kamu melakukan hal hal kecil, wanita wanita itu langsung datang menghampirimu. Dan aku, hanya salah satu dari mereka.
            Aku berbeda dari wanita wanita itu. Aku hanya wanita biasa yang bisa mengagumimu dari kejauhan. Aku wanita yang tanpa keberanian untuk mendekatimu. Aku hanya mampu memandangimu secara diam-diam. Dan merasakan kehangatan berada didekatmu itu hanya mimpi.
            Pengagum rahasia. Itu adalah julukan yang tepat untukku kepadamu. Kita pernah bersama. Kita pernah mengenal satu sama lain. Kita pernah dekat. Namun itu semua tidak cukup. Tidak cukup untuk menunjukkan kepadamu  bahwa aku mempunyai rasa cinta untukkmu. Hanya satu yang aku butuhkan agar kamu mengerti. Keberanian. Aku tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan. Dan hanya mataku yang berani mengungkapkan ketika mata kita saling bertemu. Kamu tak tahu itu.
           Tuan, entah apakah aku bisa mempertahankan cintaku yang sudah aku lalui selama 3 tahun ini? Apa aku bisa kuat untuk tersakiti lagi? Apa aku masih mampu bertahan menahan rasa sakit ini? Aku tak tahu. Aku hanya mengikuti alur yang sudah Tuhan rencanakan. 3 tahun itu tidak singkat untuk seorang gadis rapuh. Tersakiti selama itu, mungkin orang lain tak sanggup dan memilih pergi. Namun tidak untukku.
           Aku ingin melepaskan cintaku. Memendam kenangan kita. Berlari kencang dan sejauh-jauhnya dari kehidupanmu. Mungkin sekarang aku bisa mengatakan itu. Aku mempunyai keyakinan bahwa aku bisa pergi dari kehidupanmu. Kenyataan itu tak seindah mimpi. Sekuat apapun aku berusaha, aku tak bisa pergi dari kehidupanmu. Sesaat aku bisa pergi, ujungnya aku tetap kembali dan berurusan dengan kehidupanmu.
           Mungkin aku wanita yang bodoh. Yang masih mempertahankanmu meski aku tahu kamu tak ada rasa sedikit pun. Kamu tak hanya sekali dua kali menykitiku, berkali kali. Malah dengan itu aku semakin bertahan. Betapa bodohnya aku yang masih yakin bahwa kamu akan datang membawa cintamu suatu saat nanti. Dan kamu akan memberikan seluruh cintamu hanya untukku. Akhirnya, kamu adalah milikku seutuhnya.
           Aku pernah merasa yakin bahwa kamu adalah jodohku, dan Tuhan menunjukkan keyakinanku. Aku juga pernah merasa tak pantas untukmu, dan Tuhan juga menunjukkannya. Aku masih tak mengerti akan berakhir seperti apa nanti. Apa aku bukan jodohmu? Aku masih belum bisa memahami ini. Tuan, bantu aku. Tunjukkan apa yang terbaik untuk kita. Katakan dengan jelas, bukan dengan ‘kode’. Aku butuh kepastian dari mulutmu itu.
          Apa aku yang berharap lebih? Apa ini semua hanya ungkapan sebatas teman? Perbuatan sebatas teman? Kenangan sebatas teman? Dan jawabannya ‘tidak’. Jika orang lain yang mengalami ini, orang itu juga akan berfikir bahwa ini mengartikan lebih dari sekedar teman. Jika memang benar dengan keyakinanku ini bukan sekedar teman, kenapa harus tidak jujur dengan dirimu sendiri. Gengsi. Apa benar karena kamu gengsi? Bukankah cinta tak harus gengsi? Entahlah.
          Selama aku masih yakin, aku akan tetap menjadi pengagum rahasiamu. Hanya dengan itu aku akan merasakan kehangatanmu. Aku bisa melihat kamu tersenyum. Dan aku masih bisa berurusan dengan kehidupanmu.

Minggu, 27 April 2014

Akhir Dari Segalanya

Aku yang selalu bertanya bagaimana akhir dari kisah cintaku? Apakah aku akan bahagia? Ataukah aku akan menderita? Pertanyaan itu yang selalu membayangi hidukpu. Akankah aku hidup bersamanya selamanya? Itu seperti mustahil. Tapi, siapa yang tahu bagaimana akhirnya. Aku harus menemukan akhir itu, jika aku ingin tahu akhir itu. Bagaimanapun nantinya. Aku sendirilah yang harus menemukan akhir itu.
Dari sekian kali aku bertanya. Sekian kali aku memikirkan semua pertanyann ini. Aku mendapatkan jawaban itu. Aku menemukan akhir itu. Aku sendiri yang menemukan. Bukan! Lebih tepatnya aku yang membuat akhir itu. Entah keputusann ini benar atau salah. Entah aku akan menyesal atau tidak nantinya, aku tak peduli. Aku terlalu lelah jika harus menunggu kepastian, dan aku lelah harus bertanya pada diri sendiri setiap hari. Ini adalah puncak dari kejenuhanku. Dan aku memberanikan diri untuk membuat keputusan.
            Bukan mauku mengatakan ini. Dengan cara spontan aku mengatakan. Tanpa berfikir panjang aku membuat keputusan. Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Dengan segala yang tak aku persiapkan, aku melakukannya. Dihadapan sahabatku, dan dia yang seharusnya menjadi sainganku memperebutkan cinta. Kepadanya aku berkata “Aku berhenti mencintainya. Dan inilah akhir dari segalanya. Aku menitipkan dia kepadamu. Dia yang sangat aku cinta dan sayangi. Aku rela melihat kalian berdua bahagia, dan aku yakin kalian aka bahagia. Mungkin memang ini takdir Tuhan, takdir kalian untuk bahagia. Jika kamu tak ingin kehilanga dia, segeralah mengatakan apa yang ini kamu katakan. Aku siap membantumu”
            Kata-kata itu, keluar begitu saja dari mulutku. Tak ada keraguan dari hati ini setelah mengatakan itu. Memang mungkin ini jalan yang Tuhan tunjukkan untukku. Masih banyak liku didepan sana. Dan ini bukan liku yang seberapa. Mungkin masih banyak liku yang lebih tajam dari ini. Aku harus siap kapanpun melewati likuan itu.
            Ada atau tidak dia dikehidupanku, aku yakin aku akan bahagia. Bukankah kebahagiaan itu bukan hanya cinta? Dan cinta tak harus memiliki? Aku mengambil keputusan ‘cinta tak harus memiliki’. Entah bagaimana kehidupanku nanti, aku akan tetap menjalaninya. Aku masih bisa melihat dia, meski dia tak akan menjadi milikku. Namun, siapa yang tahu dengan siapakan dia hidup bersama nanti. Bukan jodohku sekarang bukan berarti menutup kemungkinan jodohku nanti?

Kamu cinta pertamaku. Bahagialah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia sepenuhnya. Dengannya, wanita yang sempurna….

Jumat, 04 April 2014

KARMA?

Ada yang percaya karma? Enggak semua orang di dunia ini percaya sama KARMA. Gue percaya, karena sekarang gue lagi kena KARMA. Nah loh! Karma itu adalah imbal balik apa yang telah kita lakuin. Itu menurut gue sih. Contohnya, kita nyakitin hati orang lain dan suatu saat kita bakalan ngerasain hal itu bisa juga lebih parah dari hal itu. Kalau tentang cinta contohnya, kita pernah bilang kita gak suka sama cowok itu dan kita bener-bener jijik sama cowok itu, kalau kita kena karma semua bisa terjadi. Kita bisa suka sama cowok itu, kita bisa bener-bener takut kehilangan, dan sebagainya. Sebenernya sih KARMA itu seperti pelajaran hidup sih. Apa yang kita lakuin itu harus baik, enggak boleh sampai nyakitin hati orang lain. Apa yang kita lakuin itu Tuhan tau, dan kita bakalan dapet imbal balik dari apa yang kita lakukan atas kehendak Tuhan.
Balik lagi sama KARMA yang gue dapet ya gais. Dulu ada temen gue suka sama cowok tetangga kelas. Cowok itu lemah gemulai kayak cewek gitu. Lumayan ganteng sih, dia putih, tinggi, tapi kurus eh lebih tepatnya kerempeng kali ya. Saat itu bener-bener gue agak gimana gitu kalau liat dia. Gue bilang sama temen gue yang suka sama cowok itu “Orang kayak gitu aja loe suka. Udah kerempeng, lemah gemulai lagi”. Temen gue enggak marah sih gueu bilang seperti itu. Tapi gue yang sadar perkataan gue itu nyakitin banget. Jelas-jelas temen gue lagi suka suknya sama cowok itu, eh malah gue bilang gitu. Jahat banget ya gue, yaampun!
Suatu saat sekolah lagi ngadain study tour gitu ke Bali. Anak satu bus itu diacak dari berbagai kelas. Ternyata gue satu bus sama cowok itu. Gue biasa aja sih semula. Enggak ngerasa ada yang aneh gitu. Selama disana kita fine fine aja. Tapi waktu kita pulang, ada yang aneh sama perasaan gue. Gue jadi sering liatin dia, tingkah laku dia itu gue selalu merhatiin. Kita seru-seruan bareng, kita nyanyi nyanyi bareng. Pas pulang, itu suasana tambah seru. Dan perasaan gue makin makin makin aneh. Gue ngerasa deg degan pas gue liat matanya. Apalagi pas dia ngasih senyuman manis, duh itu cowok keliatan banget kalau ternyata dia ganteng. Gue belum nyadar sih kalau saat itu gue lagi jatuh cinta. Akhirnya sih gue sadar dengan sendirinya kalau gue sedang jatuh cinta karena KARMA. Eitss, sekarang udah enggak jatuh cinta lagi sih sama dia. setelah gue tau, kalau dia udah punya pacar.
Well, dengan cerita gue tadi sih gue harap kalian lebih hati-hati dengan tutur kata kalian, dengan perilaku kalian. Jangan pernah kalian nyakitin hati orang lainApapun yang kita lakuin sekrang, suatu saat Tuhan akan ngebales itu semua. So, hati-hati ya gais! Wassalam …….

Sabtu, 01 Maret 2014

Tatapan Penuh Arti

Ditemani tugas yang tak kunjung berakhir ini. Bersama bintang diatas sana, serta diiringi doa yang tak putus. Aku masih memikirkanmu. Dengan alunan lagu yang sendu, aku terhanyut dalam susana. Mencoba menahan air mata dengan senyuman. Mencoba mengingat hal indah, bukan hal buruk. Setiap malam menunggu keajaiban datang. Sesekali melihat layar handphone, namun selalu tak ada tanda-tanda darimu. Setiap hari aku melakukannya.
Berangkat menuju sekolah dengan penuh harap. Harap akan kebahagiaan yang akan menghampiriku, dan tak mengharapkan hal buruk terjadi. Membaca doa disepanjang jalan, agar impianku benar-benar terjadi. Selalu bersemangat untuk berangkat pagi, agar lebih cepat menatap wajah itu. Ketika wajah itu mulai nampak, hati ini bedegup kencang. Seakan-akan akan ada sesuatu yang terjadi. Senyuman manisnya yang seakan menyapa ramah. Tatapan matanya yang seakan mengatakan “selamat paaagii”, membuat pagi ini terasa lebih indah dan lebih bersemangat.
Setiap kata yang disampaikan olehnya, selalu sampai ditelinga ini. Meskipun terhalang jarak yang jauh, telinga ini selalu berhasil menangkap kata yang terucap. Sekecil apapun suaru itu, telinga ini selalu mendengar. Ucapan demi ucapan kudengar. Namun, mata ini terpaku tak berani menatap. Jika aku menatap dia, aku harus bersiap untuk terluka. Selalu ada kesedihan disamping kebahagiaan. Ya, aku memang takut untuk terluka. Aku memang pengecut!
Perlakuan tak adil yang aku rasakan, perlakuan itu dia yang melakukannya. Dengan membedakan aku dengan yang lain. Dengan mereka dia bisa sedekat itu. Mereka selalu tertawa, selalu bercanda. Mereka selalu tertawa lepas. Dan ketika bersamaku, tak ada tawa yang tercipta. Tak ada kebahagiaan yang aku rasa. Dan kami tak pernah dekat, tak pernah. Hanya bisa menatap dari kejauhan. Seakan aku berada disana ikut tertawa bersama. Aku sadar, aku bukan disana sekarang. Aku disini sendirian untuk menatap. Betapa sakitnya hati ini? Betapa pengecutnya aku, yang tak berani datang kesana dan berkata “aku boleh gabung?”. Sebenarnya hanya itu yang aku butuhkan untuk mendapatkannya. Hanya keberanian untu mengungkapkan. Namun, hingga saat ini belum ada keberanian sekecil biji sawi pun.
Memeperhatikan apa yang seharusnya milik kita, namun ternyata orang lainlah yang mendapatkannya itu benar benar menyakitkan. Aku ingin menangis, aku ingin berteriak kencang saat itu. Aku ingin tunjukkan kepada mereka, bahwa aku juga ada disitu, bahwa aku juga menginginkan hal itu. Namun apa daya, tetap tak ada keberanian. Hanyan kekuatan menahan yang masih tersimpan rapi pada raga ini. Sahabat sahabatku lah yang menjadi kekuatanku. Aku tak tahu, kapan kekuatan itu akan hilang. Aku tak habis fikir jika aku kehilangan kekuatanku. Mereka selalu mengatakan kepadaku “jika kamu ingin bahagia, kamu harus bersiap untuk teluka!”.
Ketika aku tak sengaja menatap kesamping, tanpa aku sadari bahwa sedari tadi ada mata yang memperhatikan tingkah lakuku. Mata yang indah itu, kini benar-benar memperhatikanku. Hati ini mulai berdegup kencang. Keringat dingin seakan membasahi tubuhku. Terdengar alunan musik yang mengiringi setiap detak jantungku. Dua pasang mata yang saling menatap. Menatap tajam seakan saling berbicara. “Aku tak ingin mengakhiri ini Tuhan. Biar selamanya seperti ini Tuhan. Aku menginginkan ini Tuhan”, aku berkata dalam hati dengan terus menatap mata itu tanpa berkedip sedetik pun. Dia seakan mendengar apa yang aku katakan. Senyuman manis itu perlahan ada. Semakin kencang hati ini berdegup. Tanpa kita sadari bahwa kita ada diruangan yang banyak orang. Kita tak menghiraukannya. Kita tak peduli apa yang terjadi disana. Kita hanya menatap, menatap dan terus menatap. Tatapan jam yang penuh arti.
Hingga kita tersadar, ada sepasang mata yang memperhatian kita. Aku langsung mengalihkan pandangan. Pandangan yang tak ingin aku akhiri. Seketika suasana tersa hening kembali. Tak ada alunan musik, tak ada kata-kata yang terlontar. Semua yang telah terjadi tak akan terulang kembali. Aku hanya dapat berharap bahwa suatu saat nanti aku dapat menatap mata itu hingga aku puas. Tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada yang melarang.
Keadilan Tuhan, mungkin memang tak selalu adil menurut kita. Tapi ingat, hanya Tuhan yang tahu kita, semua tentang kita. Tuhan yang mengerti apa yang kita butuhkan. So, gak usah ragu sama jalan yang Tuhan berikan. Yakinlah, suatu hari nanti Tuhan akan memberikan kebahagiaan itu seutuhnya.

Selasa, 11 Februari 2014

Mungkin Bukan Sekarang

Kamu adalah alasan kenapa aku menutup hatiku untuk orang lain
Kamu adalah alasan kenapa aku bisa tegar
Kamu adalah alasan kenapa aku kuat
Kamu adalah alasan kenapa aku dapat bertahan hingga sekarang
Karna kamu adalah orang yang selalu memberiku kebahagiaan dan air mata
Bertahun-tahun itu bukan waktu yang singkat
Selama itu aku bisa nerima apa yang kamu lakukan
Dengan satu harap, kelak kamu akan menjadi milikku seutuhnya
Seiring berjalannya waktu, bukan harapku yang tercipta
Namun, hanya kesedihan demi kesedihan yang singgah diceritaku
Aku fikir kamulah orang yang tepat
Kamu orang yang bisa selalu ada buat aku
Kesalahan terbesar!
Kenapa aku harus mengenalmu jika akhirnya akan seperti ini
Gak selamanya aku bisa kuat
Gak selamanya aku bisa tegar
Gak selamanya aku bisa bertahan
Entah kapan pun itu
Suatu saat aku akan berada dititik jenuh
Entah apa yang akan lakukan nanti
Aku bukan manusia yang bisa disakitin terus
Aku berhak untuk bahagia
Aku berhak mendapatkan apa yang aku inginkan
Aku sama seperti mereka
Aku manusia biasa, aku manusia lemah
Yang tak berdaya jika harus tersakiti terus menerus
Aku lelah …

Aku lelah dengan cerita ini

Kamis, 06 Februari 2014

Bukan Sekarang Tapi Nanti

Berawal dari ide konyolku, mereka menjadi satu. Aku tak pernah menyesali telah berkata seperti itu. karena itu bukan keinginanku, tapi itu keinginan hatiku. Membuat orang lain bahagia jauh lebih baik daripada kita bahagia namun orang lain tersiksa. Melihat senyum dan tawa bahagia yang terpancar dari seorang sahabat itu jauh lebih bahagia. Kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku juga. Kesedihan dia, adalah cambuk untuk diriku agar aku tetap menjaga tawanya. Tak pernah terfikir olehku untuk membuatnya bersedih. Aku tak akan melakukan hal konyol itu. Aku tak ingin melihat kemurungan yang tercipta dari paras nan cantik itu. Aku tak tau bagaimana aku nanti jika tak ada tawa yang tercipta lagi diantara kita. Maka dari itu, tugasku adalah menjaga tawa itu agar tetap ada. Agar tawa itu selalu terpancar dari paras nan cantik itu. Agar air mata takut untuk singgah disana.
Kali ini saat yang tepat untuk membuat dia bahagia, bukan sekedar bahagia namun benar-benar bahagia. Membuat dia bersama orang yang dia cinta itu tujuanku. Aku ingin melihat dia bahagia. Namun aku salah, aku salah melakukan hal ini. Aku tak ada keinginan tersenyum sedikitpun ketika melihat mereka bersama. Meskipun aku melihat dia bahagia, tak ada keinginan sedikitpun untuk ikut larut dalam kebahagiaan dia. Apa ini? Kenapa aku bersedih seperti ini? Aku sadar, bahwa ini adalah rasa cintaku yang telah lama aku pendam. Mengapa harus muncul sekarang? Kenapa harus sekarang? Bukan aku yang menginginkannya. Bukan aku! Bukan aku! Bukan salahku! Aku tak tau harus berbuat apa. Baik, aku akan tetap diam dengan perasaan ini. Aku akan mengabaikannya. Aku harus terlihat ikut larut dalam kebahagiaannya. Karena aku tak ingin dia tau apa yang aku rasa sekarang. Aku tak mungkin merusak kebahagiaan ini.
Beberapa hari menuju hari dimana aku harus benar-benar menahan rasa itu, aku pergunakan untuk mempersiapkan mentalku. Aku harus siap menghadapi hari itu. Aku harus siap melihat apa yang akan terjadi diantara mereka. Aku persiapkan dengan matang-matang. Namun, malam itu aku benar-benar takut. Takut melihat hari esok, dimana sahabatku akan berjalan bersama disatu tempat dengan orang yang dia cinta sekaligus aku cinta. Ini benar-benar menyiksaku. Aku coba hilangkan satu persatu tentang mereka. Semakin aku menghindari fikiran itu, aku semakin sulit untuk melepaskannya. Ini adalah keinginanku. Keinginanku untuk melihat mereka bersama. Namun, mengapa harus sesakit ini? Menyesal? Tak akan!
Akhirnya, hari itu datang juga. Semula semua berjalan dengan lancar. Semangaku untuk menatap kedepan kembali. Hari itu aku harus dua kali perang. Pertama aku akan bertempur bersama temn-temanku, dan yang kedua aku akan bertempur mati matian sendiri. Tak ada yang aku takuti saat itu. Karena aku yakin, aku lah yang akan memenangkan pertempuran itu. Pertempuran kali ini sangat istimewa. Dimana pertempuranku kali ini adalah tugas yang sangat mulia. Jika aku memenangkan pertempuran ini, aku akan membahagiakan dua orang sekaligus. Aku akan membahagiakan guruku dan tentunya sahabatku. Yak! Pertempuran dimulai!
Pertempuran pertama, tak berjalan dengan lancar. Banyak kendala yang kamu hadapi, namun kami tetap yakin. Bahawa kami adalah juaranya! Tak semudah itu memenangkan sebuah pertempuran. Rintangan yang harus kita taklukan, bahaya yang akan kita hadapi, dan musuh yang harus kita lawan. Dengan itu kita akan memenangkan pertempuran. Kami yakin kami bisa! Kami yakin kamilah yang terbaik! “Nine F Kingdom juaranya!”
Pertempuran kedua, kali ini aku akan menghadapinya sendiri. Semangat! Tugasku bukan perang melawan musuh, namun perang malawan rasa cinta untuk sesaat. Aku harus menghilangkan rasa cinta itu untuk hari ini. Setidaknya hingga acara hari ini berakhir. Aku harus menemani sahabatku yang akan fahsion show denga orang yang dia cinta sekaligus orang yang aku cinta. Ketika aku hendak berjalan pergi, dia memanggilku. Saat itu aku benar-benar tak sanggup jika harus berada disitu lebih lama lagi. Melihat mereka yang sangat serasi, serasa aku tak akan bisa mendapatkan cinta darinya.
Aku sadar, aku bukan siapa-siapa dia. Aku juga tak berhak apa-apa untuk melarangnya. Baiklah, mungkin bukan saat ini aku harus bahagia dengannya. Namun, aku dapat menyelesaikan tugasku dengan baik. Tanpa salah sedikitpun. Entah suatu saat aku bisa bersamanya atau tidak, biarlah Tuhan yang mengatur semuanya. Karena skenario Tuhan pasti indah ….

Jumat, 17 Januari 2014

Cinta Gak Sih?

2 minggu sudah aku tak mendengar kabar darinya. Bukannya aku tak mau mencari kabar darinya, tapi susah untuk mendapat kabar darinya. Perasaan khawatir itu selalu menyelimuti hatiku. Aku tak tahu apa yang terjadi disana. Apa dia baik-baik saja, atau malah sebaliknya? Btapa bodohnya diriku saat membayangkan dia sedang dalam bahaya, betapa bodohnya diriku. Aku tak seharusnya membayangkan itu. Bukannya aku menginginkan dia dalam bahaya, tapi tiba-tiba bayangan itu singgah difikiranku. Seketika juga aku menghilangkan bayangan itu.
1 menit seperti 1 jam, 1 jam seperti 1 hari dan 1 hari seperti 1 minggu. Cinta, semua hal yang kecil dibuat besar. Semua hal yang simple dibuat ribet. Semua hal yang mudah dibuat sulit. Tanpa sadar seseorang yang sedang jatuh cinta pasti ngelakuin salah satu diatara itu. Tak terkecuali aku. Baru saja awal liburan, dan rasanya tuh pengen cepet-cepet masuk dengan alasan kangen. 1 hari aja baru liburan, rasanya tuh kayak udah seminggu gak ketemu. Emang ya orang jatuh cinta, ngapain aja dilakuin. Whatever orang lain mau bilang apa. Inilah suka dukanya orang jatuh cinta. Ada yang setuju, ada juga yang berharap kita cepet-cepet putus.
Dalam hal jatuh cinta gak semuanya bisa berjalan mulus seperti jalan tol. Ada masalah sana sini, ada perbedaan ini itu, ada yang gak setuju, ada yang setuju setuju aja. gak semua orang juga setuju sama hubungan kita. Anehnya yang ngejalanin kita, tapi kenapa yang ribet orang lain. Mereka gak berhak nentuin kemana kita akan melangkah. Mereka yang menuntun kita, mendampingi kita agar berjalan tepat pada arahnya. Bukannya egois, tapi setiap orang punya keinginan masing-masing. Dan keinginanku sekarang, jangan ngusik hubunganku! Jangan bikin dia pergi dariku!
Hari pertama masuk sekolah setelah liburan yang biasanya aku bahagia gak jelas, kali ini enggak. Gak ada satupun kejadian yang bikin aku tertawa lepas. Persaan yang canpur aduk gak jelas. Gak ada yang nyemangatin kayak dulu lagi. Seseorang yang aku harap akan membuatku tertawa hari ini ternyata malah bikin aku bersedih hari ini. Tanpa alasan yang jelas dia berubah. Biasanya setelah gak ketemu sekian lama itu saat ketemu lagi ada sesuatu yang jika dirasain bener-bener pakek hati itu, ahh gak bisa diomongin pakek kata-kata deh. Tapi kali ini gak ada rasa itu. Bener-bener awal yang buruk!
Kejadian lalu sudah terlupakan dari ingatanku. Aku harus move to the on, move on! Bukan berarti juga aku sudah bisa melupakan dia. Disaat yang seperti ini, saat aku semangat”nya nyerah, dengan gampangnya dia malah datang lagi. Dia gak mkir, gimana perasaan cewek disakitin itu. dia gak pernah mikirin perasaan orang lain. Aku seneng, seneng banget dia datang lagi. Tapi bukan seperti ini juga yang aku inginkan. Aku gak mau sakit lagi, aku ingin kebahagiaan. Aku sama seperti orang lain, yang menginginkan kasih sayag dari orang yang dia sayang. Apa memang ini caramu buat nunjukin kamu sayang aku? Kalo amu gak sayang, lalu apa arti perhatianmu? Kenapa kamu selalu curi-curi padang ke aku? Kenapa kamu pasang wajah jealouse ketika aku sama cowok lain? Apa arti semua itu? masih mau ngingkari dari perasaanmu? Setega itukah?