Senin, 07 Juli 2014

Pengagum Rahasia


            Masih dengan rutinitas yang sama. Memandangi fotomu setiap malam. Memikirkanmu setiap malam. Mengingat kenangan kita setiap malam. Membaca sekilas ke masa lalu, disaat kita bersama. Ya, sekiranya itulah yang aku lakukan selama aku menghabiskan masa liburanku ini. Selama aku tak bisa memandangi wajah tampanmu itu.
            Aku adalah salah satu wanita yang kagum terhadapmu. Hanya salah satu dari berpuluh puluh orang diluar sana yang juga mengagumimu. Kamu adalah pria yang mempunyai kharisma pengikat bagi wanita. Dengan kamu melakukan hal hal kecil, wanita wanita itu langsung datang menghampirimu. Dan aku, hanya salah satu dari mereka.
            Aku berbeda dari wanita wanita itu. Aku hanya wanita biasa yang bisa mengagumimu dari kejauhan. Aku wanita yang tanpa keberanian untuk mendekatimu. Aku hanya mampu memandangimu secara diam-diam. Dan merasakan kehangatan berada didekatmu itu hanya mimpi.
            Pengagum rahasia. Itu adalah julukan yang tepat untukku kepadamu. Kita pernah bersama. Kita pernah mengenal satu sama lain. Kita pernah dekat. Namun itu semua tidak cukup. Tidak cukup untuk menunjukkan kepadamu  bahwa aku mempunyai rasa cinta untukkmu. Hanya satu yang aku butuhkan agar kamu mengerti. Keberanian. Aku tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan. Dan hanya mataku yang berani mengungkapkan ketika mata kita saling bertemu. Kamu tak tahu itu.
           Tuan, entah apakah aku bisa mempertahankan cintaku yang sudah aku lalui selama 3 tahun ini? Apa aku bisa kuat untuk tersakiti lagi? Apa aku masih mampu bertahan menahan rasa sakit ini? Aku tak tahu. Aku hanya mengikuti alur yang sudah Tuhan rencanakan. 3 tahun itu tidak singkat untuk seorang gadis rapuh. Tersakiti selama itu, mungkin orang lain tak sanggup dan memilih pergi. Namun tidak untukku.
           Aku ingin melepaskan cintaku. Memendam kenangan kita. Berlari kencang dan sejauh-jauhnya dari kehidupanmu. Mungkin sekarang aku bisa mengatakan itu. Aku mempunyai keyakinan bahwa aku bisa pergi dari kehidupanmu. Kenyataan itu tak seindah mimpi. Sekuat apapun aku berusaha, aku tak bisa pergi dari kehidupanmu. Sesaat aku bisa pergi, ujungnya aku tetap kembali dan berurusan dengan kehidupanmu.
           Mungkin aku wanita yang bodoh. Yang masih mempertahankanmu meski aku tahu kamu tak ada rasa sedikit pun. Kamu tak hanya sekali dua kali menykitiku, berkali kali. Malah dengan itu aku semakin bertahan. Betapa bodohnya aku yang masih yakin bahwa kamu akan datang membawa cintamu suatu saat nanti. Dan kamu akan memberikan seluruh cintamu hanya untukku. Akhirnya, kamu adalah milikku seutuhnya.
           Aku pernah merasa yakin bahwa kamu adalah jodohku, dan Tuhan menunjukkan keyakinanku. Aku juga pernah merasa tak pantas untukmu, dan Tuhan juga menunjukkannya. Aku masih tak mengerti akan berakhir seperti apa nanti. Apa aku bukan jodohmu? Aku masih belum bisa memahami ini. Tuan, bantu aku. Tunjukkan apa yang terbaik untuk kita. Katakan dengan jelas, bukan dengan ‘kode’. Aku butuh kepastian dari mulutmu itu.
          Apa aku yang berharap lebih? Apa ini semua hanya ungkapan sebatas teman? Perbuatan sebatas teman? Kenangan sebatas teman? Dan jawabannya ‘tidak’. Jika orang lain yang mengalami ini, orang itu juga akan berfikir bahwa ini mengartikan lebih dari sekedar teman. Jika memang benar dengan keyakinanku ini bukan sekedar teman, kenapa harus tidak jujur dengan dirimu sendiri. Gengsi. Apa benar karena kamu gengsi? Bukankah cinta tak harus gengsi? Entahlah.
          Selama aku masih yakin, aku akan tetap menjadi pengagum rahasiamu. Hanya dengan itu aku akan merasakan kehangatanmu. Aku bisa melihat kamu tersenyum. Dan aku masih bisa berurusan dengan kehidupanmu.