Semua berubah dalam sekejap. Dari sifat kamu yang perhatian
sekarang tak peduli dengan apa yang aku lakukan. Itu menjadi sebuah siksaan
batin untukku. Kamu sekarang belum benar-benar pergi, namun aku takut kamu akan
benar-benar pergi. Itu bukanlah yang aku inginkan. Apakah bisa semua kembali
seperti dulu? Aku tak yakin dengan itu. Kini kamu menemukan kebahagiaanmu
bersama mereka. Dengan teman-temanku yang mungkin dia lebih baik dariku. Aku memang
tak tahu apakah kamu hanya mengetesku atau benar-benar akan pergi. Kita memang
belum pernah terbuka satu sama lain. Aku tak tahu apa yang kamu rasakan, dan
kamupun juga tak tahu apa yang aku rasakan. Itu adalah kesalahan dari awal. Jika
kita dari awal saling terbukan takkan mungkin ada salah faham atau saling
berharap seperti ini. Aku harap ada waktunya kita saling terbuka dalam waktu
dekat ini. Aku ingin tahu isi hatimu, agar aku tak berharap lebih jika kamu tak
ada rasa.
Setiap hari aku melihat canda tawamu bersama mereka. Kamu terlihat
lebih bahagia bersama mereka. Kamu bisa tertawa lepas jika bersama mereka. Sangat
jauh berbeda ketika kamu bersamaku. Aku berusaha membuatmu tertawa, namun kamu
tak menghiraukannya. Berbagai cara aku lakukan agar kamu bisa tertawa disaat
bersamaku. Mungkin kita memang tak jodoh. Tuhan sudah memberikan petunjuk bahwa
kita tak jodoh. Mungkin kita harus berpisah dan kita tak bisa untuk bersatu. Ini
bukanlah hal yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah selalu bersamamu saat
suka dan duka. Kenyataannya tidak, ini takdir yang harus aku jalanin. Aku tak
bisa mnghindar dari takdir ini. Tuhan merencanakan hal yang lebih indah dari
ini. Aku akan menunggunya meskipun itu bukan bersamamu.
Memang melihat kamu bersama mereka itu sakit. Tapi aku bukan
siapa-siapa kamu dan aku tak berhak apa-apa agar kamu tak bersama mereka. Ketika
aku melihat itu, aku berusaha ikut tertawa agar aku melupakan apa yang aku
rasakan saat itu. Jika aku tidak ikut tertawa aku tak akan kuasa melihatnya. Itu
adalah keahagiaanmu dan aku tak mau merampasnya. Aku tak rela melihatnya, tapi
aku berusaha merelakan. Aku bilang itu bukan hakku, hakmu memilih bersama
siapa. Jika kita jodoh kamu pasti akan kembali. Namun sepertinya itu sulit
terwujud. Kamu terlanjur lebih memilih mereka dari pada aku. Mereka yang labih
sempurna dimatamu. Dibandingkan aku yang begitu kurang dimatamu. Sebegitu
hinakah aku dimatamu, hingga menatapku saja kau tak mau. Apakah ada yang salah
dariku? Jujurlah biar aku mengerti dan aku bisa memperbaiki diri. Jangan kau
sembunyikan, meskipun kita tak bisa bersama tapi jujurlah.
Aku hanya menginginkan kita selalu terbuka, bukan saling
memendam. Aku ingin tau semua yang ada, bukan bayangan semu. Aku ingin mengerti
yang sebenarnya. Secepatnya aku ingin mengrti tentangmu. Aku tahu akhirnya akan
menyakitnkan, tapi aku siap mendengarkannya. Aku tahu tak ada harapan lagi dan
akhirnya aku tetap harus meninggalkanmu. Tolonglah untuk kali ini, untuk
pertama kalinya kamu jujur dengan apa yang kamu rasa. Jangan buat aku berharap
jika nantinya tak ada yang diharapkan. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin
kenyataannya bukan sekedar bayangannya saja. Tuhan bantu aku, agar aku tahu apa
yang sebenarnya terjadi. Aku tak mau terlalu dalam berharap. Sebelum semuanya
terlambat, aku ingin tahu yang sebenarnya. Entah akan bahagia atau sedih aku
tetap ingin mengetahuinya. Secepatnya …….