Sabtu, 01 Maret 2014

Tatapan Penuh Arti

Ditemani tugas yang tak kunjung berakhir ini. Bersama bintang diatas sana, serta diiringi doa yang tak putus. Aku masih memikirkanmu. Dengan alunan lagu yang sendu, aku terhanyut dalam susana. Mencoba menahan air mata dengan senyuman. Mencoba mengingat hal indah, bukan hal buruk. Setiap malam menunggu keajaiban datang. Sesekali melihat layar handphone, namun selalu tak ada tanda-tanda darimu. Setiap hari aku melakukannya.
Berangkat menuju sekolah dengan penuh harap. Harap akan kebahagiaan yang akan menghampiriku, dan tak mengharapkan hal buruk terjadi. Membaca doa disepanjang jalan, agar impianku benar-benar terjadi. Selalu bersemangat untuk berangkat pagi, agar lebih cepat menatap wajah itu. Ketika wajah itu mulai nampak, hati ini bedegup kencang. Seakan-akan akan ada sesuatu yang terjadi. Senyuman manisnya yang seakan menyapa ramah. Tatapan matanya yang seakan mengatakan “selamat paaagii”, membuat pagi ini terasa lebih indah dan lebih bersemangat.
Setiap kata yang disampaikan olehnya, selalu sampai ditelinga ini. Meskipun terhalang jarak yang jauh, telinga ini selalu berhasil menangkap kata yang terucap. Sekecil apapun suaru itu, telinga ini selalu mendengar. Ucapan demi ucapan kudengar. Namun, mata ini terpaku tak berani menatap. Jika aku menatap dia, aku harus bersiap untuk terluka. Selalu ada kesedihan disamping kebahagiaan. Ya, aku memang takut untuk terluka. Aku memang pengecut!
Perlakuan tak adil yang aku rasakan, perlakuan itu dia yang melakukannya. Dengan membedakan aku dengan yang lain. Dengan mereka dia bisa sedekat itu. Mereka selalu tertawa, selalu bercanda. Mereka selalu tertawa lepas. Dan ketika bersamaku, tak ada tawa yang tercipta. Tak ada kebahagiaan yang aku rasa. Dan kami tak pernah dekat, tak pernah. Hanya bisa menatap dari kejauhan. Seakan aku berada disana ikut tertawa bersama. Aku sadar, aku bukan disana sekarang. Aku disini sendirian untuk menatap. Betapa sakitnya hati ini? Betapa pengecutnya aku, yang tak berani datang kesana dan berkata “aku boleh gabung?”. Sebenarnya hanya itu yang aku butuhkan untuk mendapatkannya. Hanya keberanian untu mengungkapkan. Namun, hingga saat ini belum ada keberanian sekecil biji sawi pun.
Memeperhatikan apa yang seharusnya milik kita, namun ternyata orang lainlah yang mendapatkannya itu benar benar menyakitkan. Aku ingin menangis, aku ingin berteriak kencang saat itu. Aku ingin tunjukkan kepada mereka, bahwa aku juga ada disitu, bahwa aku juga menginginkan hal itu. Namun apa daya, tetap tak ada keberanian. Hanyan kekuatan menahan yang masih tersimpan rapi pada raga ini. Sahabat sahabatku lah yang menjadi kekuatanku. Aku tak tahu, kapan kekuatan itu akan hilang. Aku tak habis fikir jika aku kehilangan kekuatanku. Mereka selalu mengatakan kepadaku “jika kamu ingin bahagia, kamu harus bersiap untuk teluka!”.
Ketika aku tak sengaja menatap kesamping, tanpa aku sadari bahwa sedari tadi ada mata yang memperhatikan tingkah lakuku. Mata yang indah itu, kini benar-benar memperhatikanku. Hati ini mulai berdegup kencang. Keringat dingin seakan membasahi tubuhku. Terdengar alunan musik yang mengiringi setiap detak jantungku. Dua pasang mata yang saling menatap. Menatap tajam seakan saling berbicara. “Aku tak ingin mengakhiri ini Tuhan. Biar selamanya seperti ini Tuhan. Aku menginginkan ini Tuhan”, aku berkata dalam hati dengan terus menatap mata itu tanpa berkedip sedetik pun. Dia seakan mendengar apa yang aku katakan. Senyuman manis itu perlahan ada. Semakin kencang hati ini berdegup. Tanpa kita sadari bahwa kita ada diruangan yang banyak orang. Kita tak menghiraukannya. Kita tak peduli apa yang terjadi disana. Kita hanya menatap, menatap dan terus menatap. Tatapan jam yang penuh arti.
Hingga kita tersadar, ada sepasang mata yang memperhatian kita. Aku langsung mengalihkan pandangan. Pandangan yang tak ingin aku akhiri. Seketika suasana tersa hening kembali. Tak ada alunan musik, tak ada kata-kata yang terlontar. Semua yang telah terjadi tak akan terulang kembali. Aku hanya dapat berharap bahwa suatu saat nanti aku dapat menatap mata itu hingga aku puas. Tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada yang melarang.
Keadilan Tuhan, mungkin memang tak selalu adil menurut kita. Tapi ingat, hanya Tuhan yang tahu kita, semua tentang kita. Tuhan yang mengerti apa yang kita butuhkan. So, gak usah ragu sama jalan yang Tuhan berikan. Yakinlah, suatu hari nanti Tuhan akan memberikan kebahagiaan itu seutuhnya.