Selasa, 11 Februari 2014

Mungkin Bukan Sekarang

Kamu adalah alasan kenapa aku menutup hatiku untuk orang lain
Kamu adalah alasan kenapa aku bisa tegar
Kamu adalah alasan kenapa aku kuat
Kamu adalah alasan kenapa aku dapat bertahan hingga sekarang
Karna kamu adalah orang yang selalu memberiku kebahagiaan dan air mata
Bertahun-tahun itu bukan waktu yang singkat
Selama itu aku bisa nerima apa yang kamu lakukan
Dengan satu harap, kelak kamu akan menjadi milikku seutuhnya
Seiring berjalannya waktu, bukan harapku yang tercipta
Namun, hanya kesedihan demi kesedihan yang singgah diceritaku
Aku fikir kamulah orang yang tepat
Kamu orang yang bisa selalu ada buat aku
Kesalahan terbesar!
Kenapa aku harus mengenalmu jika akhirnya akan seperti ini
Gak selamanya aku bisa kuat
Gak selamanya aku bisa tegar
Gak selamanya aku bisa bertahan
Entah kapan pun itu
Suatu saat aku akan berada dititik jenuh
Entah apa yang akan lakukan nanti
Aku bukan manusia yang bisa disakitin terus
Aku berhak untuk bahagia
Aku berhak mendapatkan apa yang aku inginkan
Aku sama seperti mereka
Aku manusia biasa, aku manusia lemah
Yang tak berdaya jika harus tersakiti terus menerus
Aku lelah …

Aku lelah dengan cerita ini

Kamis, 06 Februari 2014

Bukan Sekarang Tapi Nanti

Berawal dari ide konyolku, mereka menjadi satu. Aku tak pernah menyesali telah berkata seperti itu. karena itu bukan keinginanku, tapi itu keinginan hatiku. Membuat orang lain bahagia jauh lebih baik daripada kita bahagia namun orang lain tersiksa. Melihat senyum dan tawa bahagia yang terpancar dari seorang sahabat itu jauh lebih bahagia. Kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku juga. Kesedihan dia, adalah cambuk untuk diriku agar aku tetap menjaga tawanya. Tak pernah terfikir olehku untuk membuatnya bersedih. Aku tak akan melakukan hal konyol itu. Aku tak ingin melihat kemurungan yang tercipta dari paras nan cantik itu. Aku tak tau bagaimana aku nanti jika tak ada tawa yang tercipta lagi diantara kita. Maka dari itu, tugasku adalah menjaga tawa itu agar tetap ada. Agar tawa itu selalu terpancar dari paras nan cantik itu. Agar air mata takut untuk singgah disana.
Kali ini saat yang tepat untuk membuat dia bahagia, bukan sekedar bahagia namun benar-benar bahagia. Membuat dia bersama orang yang dia cinta itu tujuanku. Aku ingin melihat dia bahagia. Namun aku salah, aku salah melakukan hal ini. Aku tak ada keinginan tersenyum sedikitpun ketika melihat mereka bersama. Meskipun aku melihat dia bahagia, tak ada keinginan sedikitpun untuk ikut larut dalam kebahagiaan dia. Apa ini? Kenapa aku bersedih seperti ini? Aku sadar, bahwa ini adalah rasa cintaku yang telah lama aku pendam. Mengapa harus muncul sekarang? Kenapa harus sekarang? Bukan aku yang menginginkannya. Bukan aku! Bukan aku! Bukan salahku! Aku tak tau harus berbuat apa. Baik, aku akan tetap diam dengan perasaan ini. Aku akan mengabaikannya. Aku harus terlihat ikut larut dalam kebahagiaannya. Karena aku tak ingin dia tau apa yang aku rasa sekarang. Aku tak mungkin merusak kebahagiaan ini.
Beberapa hari menuju hari dimana aku harus benar-benar menahan rasa itu, aku pergunakan untuk mempersiapkan mentalku. Aku harus siap menghadapi hari itu. Aku harus siap melihat apa yang akan terjadi diantara mereka. Aku persiapkan dengan matang-matang. Namun, malam itu aku benar-benar takut. Takut melihat hari esok, dimana sahabatku akan berjalan bersama disatu tempat dengan orang yang dia cinta sekaligus aku cinta. Ini benar-benar menyiksaku. Aku coba hilangkan satu persatu tentang mereka. Semakin aku menghindari fikiran itu, aku semakin sulit untuk melepaskannya. Ini adalah keinginanku. Keinginanku untuk melihat mereka bersama. Namun, mengapa harus sesakit ini? Menyesal? Tak akan!
Akhirnya, hari itu datang juga. Semula semua berjalan dengan lancar. Semangaku untuk menatap kedepan kembali. Hari itu aku harus dua kali perang. Pertama aku akan bertempur bersama temn-temanku, dan yang kedua aku akan bertempur mati matian sendiri. Tak ada yang aku takuti saat itu. Karena aku yakin, aku lah yang akan memenangkan pertempuran itu. Pertempuran kali ini sangat istimewa. Dimana pertempuranku kali ini adalah tugas yang sangat mulia. Jika aku memenangkan pertempuran ini, aku akan membahagiakan dua orang sekaligus. Aku akan membahagiakan guruku dan tentunya sahabatku. Yak! Pertempuran dimulai!
Pertempuran pertama, tak berjalan dengan lancar. Banyak kendala yang kamu hadapi, namun kami tetap yakin. Bahawa kami adalah juaranya! Tak semudah itu memenangkan sebuah pertempuran. Rintangan yang harus kita taklukan, bahaya yang akan kita hadapi, dan musuh yang harus kita lawan. Dengan itu kita akan memenangkan pertempuran. Kami yakin kami bisa! Kami yakin kamilah yang terbaik! “Nine F Kingdom juaranya!”
Pertempuran kedua, kali ini aku akan menghadapinya sendiri. Semangat! Tugasku bukan perang melawan musuh, namun perang malawan rasa cinta untuk sesaat. Aku harus menghilangkan rasa cinta itu untuk hari ini. Setidaknya hingga acara hari ini berakhir. Aku harus menemani sahabatku yang akan fahsion show denga orang yang dia cinta sekaligus orang yang aku cinta. Ketika aku hendak berjalan pergi, dia memanggilku. Saat itu aku benar-benar tak sanggup jika harus berada disitu lebih lama lagi. Melihat mereka yang sangat serasi, serasa aku tak akan bisa mendapatkan cinta darinya.
Aku sadar, aku bukan siapa-siapa dia. Aku juga tak berhak apa-apa untuk melarangnya. Baiklah, mungkin bukan saat ini aku harus bahagia dengannya. Namun, aku dapat menyelesaikan tugasku dengan baik. Tanpa salah sedikitpun. Entah suatu saat aku bisa bersamanya atau tidak, biarlah Tuhan yang mengatur semuanya. Karena skenario Tuhan pasti indah ….