Berawal dari ide konyolku, mereka
menjadi satu. Aku tak pernah menyesali telah berkata seperti itu. karena itu
bukan keinginanku, tapi itu keinginan hatiku. Membuat orang lain bahagia jauh
lebih baik daripada kita bahagia namun orang lain tersiksa. Melihat senyum dan
tawa bahagia yang terpancar dari seorang sahabat itu jauh lebih bahagia.
Kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku juga. Kesedihan dia, adalah cambuk untuk
diriku agar aku tetap menjaga tawanya. Tak pernah terfikir olehku untuk
membuatnya bersedih. Aku tak akan melakukan hal konyol itu. Aku tak ingin
melihat kemurungan yang tercipta dari paras nan cantik itu. Aku tak tau
bagaimana aku nanti jika tak ada tawa yang tercipta lagi diantara kita. Maka
dari itu, tugasku adalah menjaga tawa itu agar tetap ada. Agar tawa itu selalu
terpancar dari paras nan cantik itu. Agar air mata takut untuk singgah disana.
Kali ini saat yang tepat untuk membuat
dia bahagia, bukan sekedar bahagia namun benar-benar bahagia. Membuat dia
bersama orang yang dia cinta itu tujuanku. Aku ingin melihat dia bahagia. Namun
aku salah, aku salah melakukan hal ini. Aku tak ada keinginan tersenyum
sedikitpun ketika melihat mereka bersama. Meskipun aku melihat dia bahagia, tak
ada keinginan sedikitpun untuk ikut larut dalam kebahagiaan dia. Apa ini?
Kenapa aku bersedih seperti ini? Aku sadar, bahwa ini adalah rasa cintaku yang
telah lama aku pendam. Mengapa harus muncul sekarang? Kenapa harus sekarang?
Bukan aku yang menginginkannya. Bukan aku! Bukan aku! Bukan salahku! Aku tak
tau harus berbuat apa. Baik, aku akan tetap diam dengan perasaan ini. Aku akan
mengabaikannya. Aku harus terlihat ikut larut dalam kebahagiaannya. Karena aku
tak ingin dia tau apa yang aku rasa sekarang. Aku tak mungkin merusak
kebahagiaan ini.
Beberapa hari menuju hari dimana aku
harus benar-benar menahan rasa itu, aku pergunakan untuk mempersiapkan
mentalku. Aku harus siap menghadapi hari itu. Aku harus siap melihat apa yang
akan terjadi diantara mereka. Aku persiapkan dengan matang-matang. Namun, malam
itu aku benar-benar takut. Takut melihat hari esok, dimana sahabatku akan
berjalan bersama disatu tempat dengan orang yang dia cinta sekaligus aku cinta.
Ini benar-benar menyiksaku. Aku coba hilangkan satu persatu tentang mereka.
Semakin aku menghindari fikiran itu, aku semakin sulit untuk melepaskannya. Ini
adalah keinginanku. Keinginanku untuk melihat mereka bersama. Namun, mengapa
harus sesakit ini? Menyesal? Tak akan!
Akhirnya, hari itu datang juga. Semula
semua berjalan dengan lancar. Semangaku untuk menatap kedepan kembali. Hari itu
aku harus dua kali perang. Pertama aku akan bertempur bersama temn-temanku, dan
yang kedua aku akan bertempur mati matian sendiri. Tak ada yang aku takuti saat
itu. Karena aku yakin, aku lah yang akan memenangkan pertempuran itu.
Pertempuran kali ini sangat istimewa. Dimana pertempuranku kali ini adalah
tugas yang sangat mulia. Jika aku memenangkan pertempuran ini, aku akan
membahagiakan dua orang sekaligus. Aku akan membahagiakan guruku dan tentunya
sahabatku. Yak! Pertempuran dimulai!
Pertempuran pertama, tak berjalan
dengan lancar. Banyak kendala yang kamu hadapi, namun kami tetap yakin. Bahawa
kami adalah juaranya! Tak semudah itu memenangkan sebuah pertempuran. Rintangan
yang harus kita taklukan, bahaya yang akan kita hadapi, dan musuh yang harus
kita lawan. Dengan itu kita akan memenangkan pertempuran. Kami yakin kami bisa!
Kami yakin kamilah yang terbaik! “Nine F Kingdom juaranya!”
Pertempuran kedua, kali ini aku
akan menghadapinya sendiri. Semangat! Tugasku bukan perang melawan musuh, namun
perang malawan rasa cinta untuk sesaat. Aku harus menghilangkan rasa cinta itu
untuk hari ini. Setidaknya hingga acara hari ini berakhir. Aku harus menemani
sahabatku yang akan fahsion show denga orang yang dia cinta sekaligus orang
yang aku cinta. Ketika aku hendak berjalan pergi, dia memanggilku. Saat itu aku
benar-benar tak sanggup jika harus berada disitu lebih lama lagi. Melihat
mereka yang sangat serasi, serasa aku tak akan bisa mendapatkan cinta darinya.
Aku sadar, aku bukan siapa-siapa
dia. Aku juga tak berhak apa-apa untuk melarangnya. Baiklah, mungkin bukan saat
ini aku harus bahagia dengannya. Namun, aku dapat menyelesaikan tugasku dengan
baik. Tanpa salah sedikitpun. Entah suatu saat aku bisa bersamanya atau tidak,
biarlah Tuhan yang mengatur semuanya. Karena skenario Tuhan pasti indah ….