Pagi itu aku sibuk mempersiapkan perlengkapan yang aku bawa
saat MOS. Ya, hari itu adalah hari pertamaku menjalani MOS di SMP Negeri 1
Srengat. Kakak-kakak OSIS menyuruh kami membawa beberapa perlengkapan untuk
menjalani MOS. Perlengkapan itu kertas karton, kertas bufallo, tanda pengenal,
banyak deh. Tidak lupa juga rambutku harus dikepang dua. Kalau kepang satu aku
bisa mengerjakan sendiri, tapi kalau kepang dua aku tak bisa mengerjakan
sendiri. Aku berangkat lebih awal kerumah nenek untuk meminta bantuan
mengkucirkan rambutku.
Hari pun mulai siang, aku bergegas berangkat dengan diantarkan
Ibu. Sesampainya disana aku langsung menuju kelas. Belum terlalu banyak yang
aku kenal saat itu. Aku duduk sambil melihat melihat seisi kelas. Aku melihat
seseorang yang saat itu juga duduk sendiri. Kalau tak salah namanya adalah
Niken. Sepertinya dia anak yang pendiam dan baik. Memang kita belum saling
kenal satu sama lain dan mungkin dia tak tau namaku siapa. Sepertinya berteman
dengannya itu menyenangkan.
Inilah lingkungan baruku setelah aku lulus dari SD.
Teman-teman baru, sekolah baru dan suasananya juga baru. Suasana asing yang
belum pernah aku rasakan. Seperti orang yang baru lahir didunia belum tau apa
yang harus dilakukan. Inilah yang harus aku jalani, bahkan teman-temanku juga.
Kita memulai dengan berkenalan, mencoba lebih dekat dan kita harus memahami
karakter satu sama lain. Memang susah menyatukan perbedaan karakter dengan
cepat disaat baru bertemu. Kita tak bisa langsung bersatu, kita tak bisa
langsung akrab, namun perlahan tapi pasti kita bisa menjalani itu. Kita masih
polos, karakter dari SD masih menempel erat pada diri kita. Kita harus bisa
menghilangkan karakter itu. Kita harus mengubah karakter itu menjadi lebih
dewasa agar kita bisa bersatu agar kita lebih akrab dan tidak mementingkan diri
sendiri.
Kegiatan MOS diawali dengan upacara pembukaan MOS. Setelah
upacara kita masuk kekelas masing-masing. Disana sudah terbagi beberapa
kelompok. Kita duduk menurut kelompok kita. Aku sekelompok dengan Reka, Shima,
Destri, Hafidh, Bima, dan Odhy. Kita harus bekerja sama agar kelompok kita tak
kalah bagus dari kelompok lain. Kita memang belum terlalu mengenal, tapi kita
harus bekerja sama dengan baik. Kita sering berguaru sendiri, sehingga
kakak-kakak OSIS sering menegur. Teguran itu gak buat kita diem, malah kita
tambah ramai. Memang kelompokku ini anaknya seru-seru, jadi kita mudah akrab.
Setelah hari MOS itu aku lebih mengenal yang lain. Kalo tak
biasa buat ngomong sama orang yang baru kenal itu emang susah buat memulai.
Tapi kalo tak ngomong ya kita tak bakal bisa kenal. Banyak orang diawal bertemu
mereka malu-malu dan acuh tak mau kenal. Tapi nanti setelah mereka kenal malah
deket banget jadi sahabat pula. Itulah manusia, takut untuk memulai padahal dia
gak bakal tau hasilnya kalau mereka belum mencoba. Kadang kita udah berani buat
ngomong duluan, tapi orang yang kita ajak ngomong takut, itu tuh yang bikin
sebel. Kalau seperti itu malah aku jadi malu buat ngomong dan tiba-tiba
kehabisan bahan obrolan. Pada akhirnya kita tetep diem dieman.
Setelah kita mengenal satu sama lain, aku merasa lebih
nyaman. Keadaan yang sangat berbeda saat waktu SD dulu. Aku menemukan
teman-teman yang lebih dewasa, meskipun terkadang perilaku yang dulu masih
terbawa. Aku bisa memakluminya, kita masih awal disini dan mungkin belum bisa melepaskan
karakter yang dulu. Terkadang kita bisa akrab terkadang juga kita berantem
karen mementingkan ego masing-masing. Tapi nantinya juga kembali dewasa lagi.
Aku mulai memahami karakter mereka. Tapi mereka belum tentu
memahmi karakterku yang egois, sering marah-marah gak jelas ini. Terkadang
mereka benci dengan sikapku ini, aku mengerti itu. Inilah aku, aku gak bisa
merubah itu. Aku hanya bisa memperbaiki diri tanpa merubah itu. Itu diluar
kendaliku. Bukan berarti aku seperti itu tanpa sebab yang jelas. Mungkin disaat
mereka membuat aku tak nyaman aku marah. Kalau aku pribadi, bercanda itu ada
waktunya dan serius itu juga ada waktunya. Aku paling benci saat aku serius
malah ada yang mengajak bercanda. Itu menggangu konsentrasiku.
Saat masih SD dulu semua masih polos, masih bertingkah laku
apa adanya. Sekarang kita sudah dewasa, kita bisa memikirkan mana yang baik dan
mana yang buruk. Kita bisa memperbaiki diri jika kita salah, dan kita berfikir
kedepan bukan hanya berfikir saat itu saja. Sekarang kita tidak mempertahankan
ego kita masing-masing. Kita saling mengigatkan jika ada salah, dan jika aku
diingatkan aku berusaha memperbaiki diri. Inilah kita sekarang, yang semula
kita sulit untuk bersatu sekarang kita bisa menyatukan karakter. Namun,
kesempatan ini hanya sebentar. Kita sudah kelas 9, nantinya kita akan berpisah.
Kita akan menemukan karakter baru, karakter yang lebih dewasa dari orang yang
belum