Senin, 02 Desember 2013

Aku dan Mereka adalah Kita

            Pagi itu aku sibuk mempersiapkan perlengkapan yang aku bawa saat MOS. Ya, hari itu adalah hari pertamaku menjalani MOS di SMP Negeri 1 Srengat. Kakak-kakak OSIS menyuruh kami membawa beberapa perlengkapan untuk menjalani MOS. Perlengkapan itu kertas karton, kertas bufallo, tanda pengenal, banyak deh. Tidak lupa juga rambutku harus dikepang dua. Kalau kepang satu aku bisa mengerjakan sendiri, tapi kalau kepang dua aku tak bisa mengerjakan sendiri. Aku berangkat lebih awal kerumah nenek untuk meminta bantuan mengkucirkan rambutku.
Hari pun mulai siang, aku bergegas berangkat dengan diantarkan Ibu. Sesampainya disana aku langsung menuju kelas. Belum terlalu banyak yang aku kenal saat itu. Aku duduk sambil melihat melihat seisi kelas. Aku melihat seseorang yang saat itu juga duduk sendiri. Kalau tak salah namanya adalah Niken. Sepertinya dia anak yang pendiam dan baik. Memang kita belum saling kenal satu sama lain dan mungkin dia tak tau namaku siapa. Sepertinya berteman dengannya itu menyenangkan.
Inilah lingkungan baruku setelah aku lulus dari SD. Teman-teman baru, sekolah baru dan suasananya juga baru. Suasana asing yang belum pernah aku rasakan. Seperti orang yang baru lahir didunia belum tau apa yang harus dilakukan. Inilah yang harus aku jalani, bahkan teman-temanku juga. Kita memulai dengan berkenalan, mencoba lebih dekat dan kita harus memahami karakter satu sama lain. Memang susah menyatukan perbedaan karakter dengan cepat disaat baru bertemu. Kita tak bisa langsung bersatu, kita tak bisa langsung akrab, namun perlahan tapi pasti kita bisa menjalani itu. Kita masih polos, karakter dari SD masih menempel erat pada diri kita. Kita harus bisa menghilangkan karakter itu. Kita harus mengubah karakter itu menjadi lebih dewasa agar kita bisa bersatu agar kita lebih akrab dan tidak mementingkan diri sendiri.
Kegiatan MOS diawali dengan upacara pembukaan MOS. Setelah upacara kita masuk kekelas masing-masing. Disana sudah terbagi beberapa kelompok. Kita duduk menurut kelompok kita. Aku sekelompok dengan Reka, Shima, Destri, Hafidh, Bima, dan Odhy. Kita harus bekerja sama agar kelompok kita tak kalah bagus dari kelompok lain. Kita memang belum terlalu mengenal, tapi kita harus bekerja sama dengan baik. Kita sering berguaru sendiri, sehingga kakak-kakak OSIS sering menegur. Teguran itu gak buat kita diem, malah kita tambah ramai. Memang kelompokku ini anaknya seru-seru, jadi kita mudah akrab.
Setelah hari MOS itu aku lebih mengenal yang lain. Kalo tak biasa buat ngomong sama orang yang baru kenal itu emang susah buat memulai. Tapi kalo tak ngomong ya kita tak bakal bisa kenal. Banyak orang diawal bertemu mereka malu-malu dan acuh tak mau kenal. Tapi nanti setelah mereka kenal malah deket banget jadi sahabat pula. Itulah manusia, takut untuk memulai padahal dia gak bakal tau hasilnya kalau mereka belum mencoba. Kadang kita udah berani buat ngomong duluan, tapi orang yang kita ajak ngomong takut, itu tuh yang bikin sebel. Kalau seperti itu malah aku jadi malu buat ngomong dan tiba-tiba kehabisan bahan obrolan. Pada akhirnya kita tetep diem dieman.
Setelah kita mengenal satu sama lain, aku merasa lebih nyaman. Keadaan yang sangat berbeda saat waktu SD dulu. Aku menemukan teman-teman yang lebih dewasa, meskipun terkadang perilaku yang dulu masih terbawa. Aku bisa memakluminya, kita masih awal disini dan mungkin belum bisa melepaskan karakter yang dulu. Terkadang kita bisa akrab terkadang juga kita berantem karen mementingkan ego masing-masing. Tapi nantinya juga kembali dewasa lagi.
Aku mulai memahami karakter mereka. Tapi mereka belum tentu memahmi karakterku yang egois, sering marah-marah gak jelas ini. Terkadang mereka benci dengan sikapku ini, aku mengerti itu. Inilah aku, aku gak bisa merubah itu. Aku hanya bisa memperbaiki diri tanpa merubah itu. Itu diluar kendaliku. Bukan berarti aku seperti itu tanpa sebab yang jelas. Mungkin disaat mereka membuat aku tak nyaman aku marah. Kalau aku pribadi, bercanda itu ada waktunya dan serius itu juga ada waktunya. Aku paling benci saat aku serius malah ada yang mengajak bercanda. Itu menggangu konsentrasiku.
Saat masih SD dulu semua masih polos, masih bertingkah laku apa adanya. Sekarang kita sudah dewasa, kita bisa memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita bisa memperbaiki diri jika kita salah, dan kita berfikir kedepan bukan hanya berfikir saat itu saja. Sekarang kita tidak mempertahankan ego kita masing-masing. Kita saling mengigatkan jika ada salah, dan jika aku diingatkan aku berusaha memperbaiki diri. Inilah kita sekarang, yang semula kita sulit untuk bersatu sekarang kita bisa menyatukan karakter. Namun, kesempatan ini hanya sebentar. Kita sudah kelas 9, nantinya kita akan berpisah. Kita akan menemukan karakter baru, karakter yang lebih dewasa dari orang yang belum

Minggu, 01 Desember 2013

Bukan Sekedar Perjuangan

Cinta…
Sebuah kata yang ingin dimiliki semua orang. Sebuah kata yang penuh makna dan kasih sayang. Sebuah kata yang membuat orang bahagia. Sebuah kata yang tak berbentuk tapi bisa dirasakan siapa saja. Kata orang cinta itu indah. Seindah mereka melihat langit senja. Cinta bisa membuat seseorang lupa akan segala hal. Tapi, cinta juga bisa membuat kehidupan orang menjadi lebih lebih dan lebih baik. Kata orang, mudah mendapatkan cinta. Kita tinggal memberikan cinta kepada orang lain, dan kita juga akan diberi cinta oleh orang itu. Namun, untukku tidak seperti itu. Tak semudah itu aku mendapatkan cinta.
Dalam kehidupanku, aku belum menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Aku pun belum mengerti bagaimana rasanya cinta itu. Apa cinta itu indah? Apa cinta bisa membuat kita bahagia? Mungkin untuk orang lain iya. Tapi, aku belum tau arti cinta yang sesungguhnya. Hingga saat ini aku masih mencari arti cinta yang sesungguhnya. Yang kata orang cinta itu indah dan cinta bisa membuat bahagia itu.
Langkah demi langkah aku lewati. Perjalanan panjang yang tiada ujungnya. Aku tak tau harus kemana lagi. Mencari arti cinta dalam kehidupan ini. Kepada siapa aku bertanya dimana cinta berada. Tak ada satu orang pun yang memberi tahuku. Aku mulai kesal pada kehidupan ini. Aku mulai lelah berjalan. Aku berheti disuatu tempat. Aku memasuki ruang kosong tanpa penghuni. Aku memasukinya tanpa ragu dan berharap disitulah aku menemukan cinta. Aku beristirahat sejenak sambil mencari-cari dimanakah cinta berada. Hingga ada seorang pemuda datang menghampiriku. Ternyata dia sesosok yang mempunyai ruang kosong ini.
Rasanya berat untuk meniggalkan tempat ini. Kaki ku kaku untuk melangkah pergi. Kita berada di ruangan yang sama. Hatiku berdegup kencang ketika dia ada, dan ketika dia pergi hatiku menangis seperti tak mau kehilangannya. Apakah ini yang namanya cinta? Aku tak yakin dengan itu. Aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri. Jika benar ini cinta, aku ingin memilikinya. Aku ingin cinta itu selalu ada sampai nanti.
Hingga suatu saat aku yakin bahwa ini benar-benar cinta. Cinta membuatku bahagia, dan cinta membuatku merasa sempurna. Cinta ini membawaku pada kedamaian. Cinta membawaku pada sebuah kehidupan yang lebih berarti. Kehidupan yang lebih indah dari sebelumnya. Cinta melengkapi hari-hariku, dan membuat hariku penuh warna. Cinta mengajarkanku arti kesabaran. Kesabaran untuk mencarinya, kesabaran akan ujian yang aku lewati. Cinta ini akan aku jaga, dan takkan pernah aku melepasnya. Akan aku simpan baik-baik cinta ini. Aku akan merawatnya, aku akan membawanya kemana aku pergi.
Aku melewati hari-hari indahku dengannya diantara sebuah cinta. Pemuda tampan itu sangat baik hati. Namun, sifat kesombongan dan keangkuhannya masih terlihat. Memang tidak sedikit orang yang membencinya karena sifatnya. Aku berusaha tegar mendengar cacian orang lain kepada pemuda itu. Aku menerima segala kekurangannya. Karena cinta mengajariku untuk menerima apapun yang ada pada diri orang yang kita cinta. Entah itu baik atau buruk kita tak boleh menolaknya. Karena cinta tak pernah memandang bagaimana mereka. Didalam cinta hanya ada ketulusan dari hati tanpa paksaan.