Masih dengan rutinitas
yang sama. Memandangi fotomu setiap malam. Memikirkanmu setiap malam. Mengingat
kenangan kita setiap malam. Membaca sekilas ke masa lalu, disaat kita bersama.
Ya, sekiranya itulah yang aku lakukan selama aku menghabiskan masa liburanku
ini. Selama aku tak bisa memandangi wajah tampanmu itu.
Aku adalah salah satu wanita yang kagum terhadapmu. Hanya
salah satu dari berpuluh puluh orang diluar sana yang juga mengagumimu. Kamu
adalah pria yang mempunyai kharisma pengikat bagi wanita. Dengan kamu melakukan
hal hal kecil, wanita wanita itu langsung datang menghampirimu. Dan aku, hanya
salah satu dari mereka.
Aku berbeda dari wanita wanita itu. Aku hanya wanita
biasa yang bisa mengagumimu dari kejauhan. Aku wanita yang tanpa keberanian
untuk mendekatimu. Aku hanya mampu memandangimu secara diam-diam. Dan merasakan
kehangatan berada didekatmu itu hanya mimpi.
Pengagum rahasia. Itu adalah julukan yang tepat untukku
kepadamu. Kita pernah bersama. Kita pernah mengenal satu sama lain. Kita pernah
dekat. Namun itu semua tidak cukup. Tidak cukup untuk menunjukkan kepadamu bahwa aku mempunyai rasa cinta untukkmu. Hanya
satu yang aku butuhkan agar kamu mengerti. Keberanian. Aku tak mempunyai
keberanian untuk mengungkapkan. Dan hanya mataku yang berani mengungkapkan
ketika mata kita saling bertemu. Kamu tak tahu itu.
Tuan, entah apakah aku bisa mempertahankan cintaku yang
sudah aku lalui selama 3 tahun ini? Apa aku bisa kuat untuk tersakiti lagi? Apa
aku masih mampu bertahan menahan rasa sakit ini? Aku tak tahu. Aku hanya
mengikuti alur yang sudah Tuhan rencanakan. 3 tahun itu tidak singkat untuk
seorang gadis rapuh. Tersakiti selama itu, mungkin orang lain tak sanggup dan
memilih pergi. Namun tidak untukku.
Aku ingin melepaskan cintaku. Memendam kenangan kita. Berlari
kencang dan sejauh-jauhnya dari kehidupanmu. Mungkin sekarang aku bisa
mengatakan itu. Aku mempunyai keyakinan bahwa aku bisa pergi dari kehidupanmu.
Kenyataan itu tak seindah mimpi. Sekuat apapun aku berusaha, aku tak bisa pergi
dari kehidupanmu. Sesaat aku bisa pergi, ujungnya aku tetap kembali dan
berurusan dengan kehidupanmu.
Mungkin aku wanita yang bodoh. Yang masih
mempertahankanmu meski aku tahu kamu tak ada rasa sedikit pun. Kamu tak hanya
sekali dua kali menykitiku, berkali kali. Malah dengan itu aku semakin
bertahan. Betapa bodohnya aku yang masih yakin bahwa kamu akan datang membawa
cintamu suatu saat nanti. Dan kamu akan memberikan seluruh cintamu hanya
untukku. Akhirnya, kamu adalah milikku seutuhnya.
Aku pernah merasa yakin bahwa kamu adalah jodohku, dan
Tuhan menunjukkan keyakinanku. Aku juga pernah merasa tak pantas untukmu, dan
Tuhan juga menunjukkannya. Aku masih tak mengerti akan berakhir seperti apa
nanti. Apa aku bukan jodohmu? Aku masih belum bisa memahami ini. Tuan, bantu
aku. Tunjukkan apa yang terbaik untuk kita. Katakan dengan jelas, bukan dengan ‘kode’.
Aku butuh kepastian dari mulutmu itu.
Apa aku yang berharap lebih? Apa ini semua hanya ungkapan
sebatas teman? Perbuatan sebatas teman? Kenangan sebatas teman? Dan jawabannya ‘tidak’.
Jika orang lain yang mengalami ini, orang itu juga akan berfikir bahwa ini
mengartikan lebih dari sekedar teman. Jika memang benar dengan keyakinanku ini
bukan sekedar teman, kenapa harus tidak jujur dengan dirimu sendiri. Gengsi. Apa
benar karena kamu gengsi? Bukankah cinta tak harus gengsi? Entahlah.
Selama aku masih yakin, aku akan tetap menjadi pengagum
rahasiamu. Hanya dengan itu aku akan merasakan kehangatanmu. Aku bisa melihat
kamu tersenyum. Dan aku masih bisa berurusan dengan kehidupanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar